JTR mengalu-alukan tuan puan untuk membaca tulisan dalam blog ini bagi manfaat tuan puan

Khamis, 16 Jun 2011

Awas Ancaman Syiah!

Posted by Abu Hannan On 9:11:00 PTG No comments

hassan al-Attas syiah melayu (klik untuk mengenalinya)


Majoriti kaum muslimin menilai bahawa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Kesulitan ini terpulang kepada banyak hal. Di antaranya kerana kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah menurut majoriti kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas. Tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana ia berkembang, tidak melihat bagaimana masa lalunya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari sini, sangat banyak di antara kaum muslimin yang meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.

Ia tidak memandang bahawa perbezaan antara Sunnah dan Syi’ah bukan pada masalah furu’ (cabang) saja, akan tetapi banyak juga menyinggung masalah ushul (fundamental/asas).

Hal lain yang menyulitkan untuk menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah; bahawa majoriti kaum muslimin tidak bersikap realistik dan praktik. Mereka sekadar berangan-angan dan berharap tanpa mengkaji…
Dengan bahasa yang agak sepadan, sebahagian kaum muslimin mengatakan: 
“La, mengapa harus terjadi perselisihan? Marilah kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya di atas yang Syi’i dan berjalan sama-sama. Kan kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”

Orang ini lalai bahawa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…

Sebagai contoh, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir namun menghalalkan khamr (arak) atau zina misalnya, hukumnya kafir. Menghalalkan maksudnya memandang bahawa hal tersebut boleh-boleh sahaja, dan mengingkari pengharamannya dalam Al Qur’an atau Sunnah Nabi.

Berangkat dari asumsi ini, kita akan melihat hal-hal yang sangat berbahaya dalam sejarah kaum Syi’ah, yang mengharuskan para ulama Islam untuk merenung kembali dan menentukan sudut pandang Islam terhadap bid’ah-bid’ah kaum Syi’ah yang demikian besar.

Hal lain yang turut merumitkan masalah ini adalah; banyaknya luka Islam di majoriti negeri kaum muslimin, di samping banyaknya yang memusuhi mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum salib, komunis, Hindu dan sebagainya.

Dari sini, sebagian mereka yang ‘intelek’ memandang agar kita jangan membuka front permusuhan baru. Hal ini boleh saja dibenarkan jika front tersebut mulanya tertutup lalu kita berusaha membukanya. Namun jika sejak semula telah terbuka lebar dan serangan mereka datang siang dan malam, maka mendiamkan hal tersebut berarti suatu kehinaan.

Kita tidak perlu lagi mengulang pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang:  
“Apakah mereka (Syi’ah) lebih berbahaya dari Yahudi?”

Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lidah mereka yang sedar akan penderitaan umat, sekaligus membina kikuk mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.

Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka:  
“Jadi apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersama-sama? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan untuk menyerang Syi’ah, ataupun realiti di lapangan membuktikan berulang kali bahawa merekalah yang memulai serangan?”
Kita menyaksikan kuatnya serangan Syi’ah terhadap umat Islam, dan saya rasa realiti kita saat ini tak jauh berbeza dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahawa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.

Tak ada kebaikan sedikit pun yang boleh diharapkan dari kelompok yang menganggap bahawa 99% sahabat Nabi adalah fasik, mengingat hal itu merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah s.a.w:

“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي”
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku.” (HR. Bukhari no 3451 dan Muslim no 2533)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya.

Realita Syi’ah –dari dulu sampai sekarang- adalah amat sangat menyakitkan. 

Mari kita lihat kembali beberapa masalah yang akan menjadikan visi kita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah; lalu kita tahu: lebih baik bicara ataukah diam saja!

PERTAMA:
Semua orang tahu bahawa sikap Syi’ah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzin Nuurain, lalu isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah radhiallahu ‘anha hingga para sahabat secara umum, sebagaimana yang dinyatakan terang-terangan oleh sumber-sumber mereka yang telah mereka yakini; adalah bahawa para sahabat tadi adalah orang-orang fasik dan murtad. Majoriti mereka telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta menyelewengkan ajaran Islam.

Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?

Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘fasik dan pendusta’?!?

Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu:

“إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره، فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.
“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)

Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?

Cercaan terhadap generasi sahabat bukan sekadar cercaan terhadap mereka yang telah tiada, tidak juga seperti ucapan sebahagian orang bahawa: “Cercaan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, kerana mereka telah masuk Syurga, meskipun Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah kerana cercaan terhadap para sahabat pada hakikatnya adalah cercaan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kalau berbagai cercaan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan kita anut?

Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu. Hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran beliau.

Justeru kita bertanya kepada Syi’ah: “Al Qur’an apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya adalah majoriti sahabat yang kalian cerca? Bukankah yang berjasa mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, yang kalian anggap berbuat licik untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sebagaimana merubah-rubah Sunnah menurut tuduhan kalian?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:

“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المهديين مِنْ بَعْدِي”.
“Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat hidayah sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi no 2676, Ibnu Majah no 42 dan Ahmad no 17184)

Jadi, Sunnah Khulafa’ur Rasyidien adalah bahagian yang tidak terpisah dari agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim, bila, di mana pun, dan sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap mereka kita biarkan?!
 
Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia demikian berang bila mendengar ada orang yang berani menghina sahabat. Imam Ahmad bin Hambal misalnya, beliau pernah mengatakan:

إذا رأيت أحدًا يذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بسوءٍ، فاتهمه على الإسلام
“Kalau engkau mendapati seseorang berani menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam.” (Ash Sharimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasul 3/1058 oleh Ibnu Taimiyyah)

Al Qadhi Abu Ya’la (salah seorang fuqaha mazhab Hambali) mengatakan: “Para fuqaha sepakat bahawa orang yang mencaci-maki para sahabat tak lepas dari dua kondisi: kalau dia menghalalkan hal tersebut maka dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik” (Ibid, 3/1061)

Abu Zur’ah Ar Razi (salah seorang pakar hadits yang wafat th 264 H) mengatakan:

“إذا رأيتَ الرجلَ ينتقص من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فاعلم أنّه زنديق”
“Kalau engkau mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi saw, maka ketahuilah bahawa dia itu Zindiq (munafik).” (Al Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah hal 49 oleh Al Khatib Al Baghdadi)

Sedangkan Ibnu Taimiyyah berkata: 
“Barang siapa menganggap bahawa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau menganggap fasik majoriti sahabat; maka orang ini kekafirannya tidak diragukan lagi.” (Ash Sharimul Maslul 3/1110 oleh Ibnu Taimiyyah)

Sikap yang keras terhadap para pencerca sahabat ini, tak lain adalah kerana para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Kalau salah seorang dari sahabat dicerca, berarti Islam jadi meragukan. Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al Qur’an, maupun dalam Sunnah Nabi-Nya, jelaslah bahawa orang yang menghujat para sahabat berarti mendustakan ayat-ayat dan hadits yang cukup banyak tadi.

Mungkin ada yang berkata: “Lah, kami tidak pernah mendengar si Fulan dan si Fulan yang Syi’ah itu menghina para sahabat?”

Kepada mereka, kami ingin agar memperhatikan poin-poin berikut:

Pertama: Kaum Syi’ah Itsna Asyariyah pada dasarnya meyakini bahawa para sahabat telah bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait, dan Imam-imam yang diyakini oleh mereka. Isinya, tidak ada seorang Syi’i pun (baik di Iran, Iraq, maupun Lebanon) melainkan ia meyakini kefasikan para sahabat. Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai Syi’ah. Jadi, telah menjadi suatu keniscayaan apabila setiap orang Syi’ah baik pejabat, ulama, maupun rakyat jelata untuk bersikap tidak hormat kepada para sahabat, dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam bentuk apa pun.

Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah senantiasa mengelak untuk menampakkan kebencian mereka kepada para sahabat, meski terkadang nampak juga dalam sebagian statemen atau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:

لَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ
“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Qs Muhammad: 30)

Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al Qaradhawi dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap usaha DR. Qardhawi agar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin (isteri-isteri Nabi) dengan baik.

Dan ketika Khomeini (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahawa hal itu keliru atau haram. Namun ia menjawab secara dusta dengan berkata: “Semua perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti diharamkan dalam syari’at.” Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat menurutnya ialah kerana hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum muslimin, bukan keranaa haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.

Ketiga: Kita harus waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ (bermuka dua/berolok-olok) yang menurut syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama mereka. Artinya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah berkuasa mereka akan menampakkan jati dirinya terang-terangan.

Dalam sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai beberapa wilayah Daulah Abbasiyah yang Sunni di Iraq, Mesir, Afrika Utara (Maghrib) dan semisalnya; mereka langsung terang-terangan mencerca para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama mereka.

Jadi, jelaslah bagi kita dari sini akan pentingnya menjelaskan hakikat Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat syaitan yang bisu, dan sikap ini akan mengakibatkan kehancuran Islam.

KEDUA:
Bahaya Doktrinasi Syi’ah di Dunia Islam. Tidak diragukan lagi bahawa doktrinasi Syi’ah (tasyayyu’) demikian gencar dilakukan di berbagai negara Islam. Ia tidak hanya marak di tempat asalnya seperti Iran, Iraq dan Lebanon, namun kini berlangsung sangat kuat di Bahrain, Emirat Arab Bersatu, Syria, Jordan, Saudi Arabia, Mesir, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara muslim lainnya. (Termasuk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir meningkat secara drastis, lewat tokoh-tokoh mereka macam Jalaluddin Rakhmat, Quraish Shihab dan sebagainya. Bahkan menurut pengamatan sebagian pihak, jumlah murid Kang Jalal mencapai lebih dari 10 juta! Juga termasuk di Malaysia, apabila pihak berkuasa agama menahan sekurang-kurangnya dua kali terhadap pengikut Syiah Imam Dua Belas di Selangor, selain terdapat penulis novelis yang tidak mengakui dirinya Syi'i tetapi tulisan beliau penuh dengan unsur-unsur kepercayaan Syiah yang sesat–pent)

Parahnya lagi, banyak orang yang menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah tanpa mengira bahawa mereka adalah Syi’ah. Bahkan setelah menulis beberapa artikel ini, kami –yaitu Dr. Raghib Sirjani- mendapat banyak e-mail yang penulisnya mengaku Sunni, namun isinya penuh dengan pemikiran dan gaya Syi’ah.

Kita juga tidak menutup mata akan perang global yang ditujukan kepada para sahabat lewat media massa (Yakni media massa di Mesir tempat penulis tinggal -pent) dan saluran-saluran televisyen di negeri-negeri Sunni. Yang paling masyhur ialah cercaan salah satu akhbar Mesir terhadap Siti Aisyah radhiallahu ‘anha beberapa hari terakhir. Demikian pula perang yang dilancarkan terhadap Shahih Bukhari, termasuk acara televisyen yang dibawakan oleh wartawan terkenal dan selalu mengkritik para sahabat dalam setiap episod.

Masalah semakin rumit dan tidak bisa didiamkan, mengingat adanya perkawinan silang antara manhaj (metod) Syi’ah dengan Tasawuf, dengan memberitahu bahawa keduanya mencintai Ahlul bait.

Dan kita semua tahu bahawa faham tasawuf demikian merebak di banyak negara di dunia. Dan fahaman ini telah terjangkit virus bid’ah, khurafat dan kemunkaran yang demikian banyak, dan bertemu dengan Syi’ah dalam hal mengultuskan Ahlul bait. Dari sini, penyebaran Syi’ah sangat mudah ditebak seiring dengan tersebarnya tarekat-tarekat Sufi.
Pemimpin Syiah dalam parti pembangkang terbesar di Bahrain, Ali Salman

KETIGA:
Kondisi di Iraq demikian mencengkam. Pembunuhan muslimin Ahlussunnah disebabkan identiti mereka adalah fenomena biasa yang sering terjadi. Setiausaha Agung ulama Ahlussunnah di Iraq yang bernama Harits Adh Dhaary menyebutkan bahawa ada lebih dari 100 ribu muslim Sunni yang tewas di tangan Syi’ah sejak tahun 2003 hingga 2006. Ditambah proses pengusiran yang terus menerus di beberapa lokasi demi mempermudah kekuasaan Syi’ah di sana. Dan majoriti mereka yang dideportasi (diusir) keluar dari Iraq adalah Ahlussunnah; dan ini menyebabkan perubahan susunan masyarakat yang sangat berbahaya akibatnya kelak.

Pertanyaannya sekarang: “Apakah fitnah yang timbul ketika membahas masalah Syi’ah lebih berbahaya dari fitnah terbunuhnya sekian banyak warga Ahlussunnah tadi? Lantas sampai bila masalah ini harus didiamkan? Padahal semua orang tahu betapa solidnya dukungan Iran dalam pembersihan mereka yang beridentiti Sunni?”

KEEMPAT:
  
Cita-cita Iran terhadap Iraq demikian besar, bahkan hal nampak nyata. Mengingat kedua negara sebelumnya pernah terlibat perang sengit selama 8 tahun penuh, dan sekarang jalannya terbuka lebar bagi Iran. Apalagi Iraq memiliki nilai religius penting bagi kaum Syi’ah, mengingat adanya wilayah-wilayah suci di sana, termasuk enam makam Imam Syi’ah. Di Najaf terdapat makam Ali bin Abi Thalib, lalu di Karbala’ terdapat kuburan Husein, dan di Baghdad terdapat makam Musa Al Kazhim dan Muhammad Al Jawwad, tepatnya di wilayah Al Kazhimiyyah. Sedangkan di Samarra terdapat makam Muhammad Al Hadi dan Hasan Al ‘Askari; dan masih banyak kuburan-kuburan palsu lain yang dikatakan sebagai kuburan para Nabi seperti Adam, Nuh, Hud dan Shalih di Najaf; namun semuanya palsu.

Selain Cita-cita Iran terhadap Iraq yang sangat berbahaya, Amerika juga mendukung terealisasinya cita-cita  tersebut. Kita semua menyaksikan bagaimana pemerintahan Syi’ah bentukan Amerika di Iraq. Sandiwara saling tuduh antara Amerika dan Iran sudah tidak mampan lagi sekarang, sebab tidak pernah terlintas dalam benak Amerika untuk menyerang Iran sama sekali, akan tetapi yang sangat mencemaskan bukanlah cita-cita untuk menguasai minyak atau kekayaan Iraq saja, bukan pula sekadar memperluas kekuasaan Syi’ah; namun parahnya mereka menjadikan kebrutalan dan sadisme tersebut sebagai sebahagian dari agama mereka. Sebab Syi’ah menuduh para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan Ahlussunnah sebagai musuh-musuh Ahlulbait dan menjulukinya dengan naashibah atau nawaashib. Padahal kita lebih menghargai Ahlulbait daripada mereka.

Mereka lalu mengeluarkan hukum-hukum mengerikan atas tuduhan tersebut. Misalnya Khomeini yang mengatakan: 
“Pendapat yang lebih kuat ialah memasukkan nawashib (gelaran kepada ahlussunnah) sebagai ahlul harbi (lawan perang), yang hartanya halal di mana pun didapati, dan dengan cara apa pun.” (Tahrirul Wasilah 1/352 oleh Al Khumaini)
Lalu tatkala imam mereka yang bernama Muhammad Shadiq Ar Ruhani ditanya tentang hukum orang yang mengingkari keimaman dua belas imam, dia mengatakan sesuatu yang sangat aneh: 
“Sesungguhnya imamah (jabatan imam) lebih tinggi dari nubuwah (kenabian) dan kesempurnaan agama ini ialah dengan menjadikan Amirul mukminin alaihissalam sebagai imam; Allah ta’ala berfirman: alyauma akmaltu lakum dienakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu). Maka siapa yang tidak mempercayai keimaman dua belas imam niscaya ia akan mati dalam kekafiran” (Lihat fatwa ini dalam link berikut: www.imamrohani.com/fatwa-ar/viewtopic.php)
Khomeini dalam bukunya Al Hukumatul Islamiyyah mengatakan bahawa para imam akan mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat terdekat maupun rasul sekalipun. Kerananya, tidak mengakui keimaman menurut mereka lebih berat dari pada tidak mengakui kenabian, dan inilah tafsiran atas pengkafiran Syi’ah atas Ahlussunnah, yang diikuti dengan penghalalan darah mereka di Iraq dan negeri-negeri lainnya. Oleh kerana itu, Iraq harus dimasukkan dalam kekuasaan mereka kerana banyaknya tempat-tempat ’suci’ mereka yang masih dikuasai oleh orang-orang yang mereka anggap kafir.

KELIMA:
Ancaman langsung tak berhenti di Iraq saja, namun cita-cita mereka terus meningkat untuk menguasai daerah sekitarnya. Mereka menganggap Bahrain sebagai bagian dari Iran, sebagaimana pernyataan ketua pemeriksa umum Ali Akbar Nathiq Nuri di pejabat pemimpin revolusi ketika memperingati 30 tahun revolusi Iran. Ia mengatakan: “Bahrain pada dasarnya adalah wilayah Iran yang keempat belas, yang diwakili oleh seorang legislatif di majlis permusyawaratan Iran.” (Lihat situs al jazeerah berikut: www.aljazeera.net/NR/exeres/684338CB-837A-4879-8C7A-1A1B995DD286.htm)

Kita juga tahu bahwa Iran menduduki tiga pulau milik Emirat Arab Bersatu di teluk Arab, dan jumlah mereka makin bertambah di Emirat hingga nisbahnya mencapai 15% dari total jumlah penduduk, dan menguasai pusat-pusat perdagangan terutama di Dubai.

Demikian pula kondisinya di Arab Saudi yang tidak statik; sebab sejak revolusi Iran tahun 1979, berbagai gangguan stabiliti terjadi berulang kali di Arab Saudi. Bahkan itu terjadi secara langsung setelah revolusi Iran, dengan munculnya demonstrasi Syi’ah di Qathif dan Saihat (dua wilayah Saudi), yang paling gencar di antaranya adalah tanggal 19 November 1979.

Masalah pun kadang semakin parah hingga berubah menjadi semakin huru-hara dan kejahatan di Baitullah Makkah. Sebagaimana yang terjadi pada musim haji tahun 1987 dan 1989. Bahkan pasca jatuhnya pemerintahan Saddam Husein, sekitar 450 tokoh Syi’ah di Saudi mengajukan cadangan kepada putera mahkota ketika itu, yaitu Raja Abdullah dan meminta agar diberi jabatan-jabatan tinggi di dewan parlimen, jalur diplomasi, badan ketenteraan dan keamanan, serta menambah jumlah mereka di majlis syura.

Bahkan Ali Syamkhani, yang merupakan penasihat tertinggi masalah ketenteraan bagi pimpinan umum revolusi Iran mengatakan, bahawa bila Amerika menyerang projek nukliar Iran, maka Iran tidak sekadar membalas dengan menyerang fasiliti milik Amerika di teluk, namun akan menggunakan peluru-peluru berpandu  balistiknya untuk menyerang target-target strategiknya di teluk Arab. Pernyataan ini disiar oleh majalah Times Inggeris pada hari Ahad 10 November 2007.

Inikah semuanya?
Tidak… namun masih banyak sekali hal-hal yang belum kami sebutkan.
Dalam tulisan ini kami baru menyebutkan lima poin yang menjelaskan bahaya Syi’ah dan gentingnya masalah ini. Dan masih ada lima poin lagi yang tak kalah penting yang akan saya sampaikan dalam tulisan berikutnya atas izin Allah. Dan setelah itu kami akan paparkan metod paling tepat untuk mengatasi kondisi yang sangat berbahaya ini.
Masalah Syi’ah bukanlah catatan kaki dalam sejarah umat Islam, hingga sahaja boleh untuk ditinggalkan atau ditunda… namun ia merupakan masalah yang menduduki prioriti utama bagi umat Islam.

Kita semua mengetahui bagaimana Palestin dibebaskan dari tangan kaum Salib di atas tangan Shalahuddien; dan itu tidak terjadi kecuali setelah beliau membebaskan Mesir dari kekuasaan Syi’ah Ubeidiyyah. Dan ketika itu Shalahuddien tidak mengatakan bahawa perang salib harus lebih diprioritikan daripada menyingkirkan kekuasaan Syi’ah dari Mesir. Hal itu kerana beliau yakin bahawa kaum muslimin tidak akan mendapat pertolongan kecuali bila akidah mereka bersih dan tentara mereka ikhlas.

Shalahuddien juga tidak memaksa rakyat Mesir untuk berperang bersamanya demi target utamanya (yaitu pembebasan Palestin), kecuali setelah membebaskan mereka dari belenggu-belenggu Syi’ah Ubeidiyyah.

Apa yang kami sebutkan tentang Mesir di masa Shalahuddien sama dengan yang kami sebutkan tentang Iraq sekarang, demikian pula dengan setiap negara yang terancam oleh Syi’ah… dan kita harus mengambil pelajaran dari sejarah!

Semoga Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin…

terjemahan dari web al-burhan.com

0 Komen:

Catat Ulasan

Pada pendapat anda?

Perjalanan

Tembusi Petra, Jordan Slideshow: BenTaleb’s trip was created by TripAdvisor. Create a free slideshow with music from your travel photos.
Sabda Baginda SAW ; "Ketahuilah ia (Dajjal) berada di laut Syam atau laut Yaman.. akan datang dari arah timur (lalu menunjukkan dengan tangan baginda).."[Riwayat Muslim]. Daripada Abi Bakr al-Siddiq r.a, sabda Baginda SAW, "Dajjal akan muncul ke bumi dari arah timur bernama KHURASAN." [Riwayat al-Tirmizi]. Daripada Anas bin Malik r.a, sabda Baginda SAW, "Dajjal akan keluar dari kota Yahudi ISFAHAN (Khurasan, IRAN) bersama 70,000 penduduk ISFAHAN". [Fath al-Rabbani Tartib Musnad Ahmad. Ibn Hajar berkata : "Sahih"]. Ibn Kathir berkata, Dajal pada mulanya akan muncul dari ISFAHAN dari sebuah kota Yahudi [al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim]. ISFAHAN adalah sebuah bandar terbesar YAHUDI di Iran dan pusat loji nuklear Iran pada masa kini.